12 April 2008

Hawa Malam

hawa malam
yang berkiblat
dilembar rupiah

hawa malamnya
mulai riang diremang remang
meraung dibawah kelambu belang

hawa malam
bertelanjang dengan
riang dan berdesah picik
diranjang empuknya

hawa malam pun
berusik tanpa air mata

mereka digilir
sejak dentungan jam tujuh malam,
berganti pena menyundulnya
sewarna pun tak cukup dihitung

hawa malam
bersandar layaknya gerbong kereta
yang wangi tuk menghantar
sambil berdesah tuk
merayu

karena telanjangmu
cukup molek
buat tuantuan

Hayam Wuruk, 30 Oktober 2005

1 komentar:

Eko Rusdianto mengatakan...

Puisinya menarik sekali. K'Uceng upload puisi tentang penghianat itu dong. Saya suka sekali tulisan itu.