hawa malamyang berkiblat
dilembar rupiah
hawa malamnya
mulai riang diremang remang
meraung dibawah kelambu belang
hawa malam
bertelanjang dengan
riang dan berdesah picik
diranjang empuknya
hawa malam pun
berusik tanpa air mata
mereka digilir
sejak dentungan jam tujuh malam,
berganti pena menyundulnya
sewarna pun tak cukup dihitung
hawa malam
bersandar layaknya gerbong kereta
yang wangi tuk menghantar
sambil berdesah tuk
hawa malam pun
berusik tanpa air mata
mereka digilir
sejak dentungan jam tujuh malam,
berganti pena menyundulnya
sewarna pun tak cukup dihitung
hawa malam
bersandar layaknya gerbong kereta
yang wangi tuk menghantar
sambil berdesah tuk
merayu
karena telanjangmu
cukup molek
buat tuantuan
Hayam Wuruk, 30 Oktober 2005
karena telanjangmu
cukup molek
buat tuantuan
Hayam Wuruk, 30 Oktober 2005


1 komentar:
Puisinya menarik sekali. K'Uceng upload puisi tentang penghianat itu dong. Saya suka sekali tulisan itu.
Posting Komentar