Kasus Aborsi yang tercatat di Asia Tenggara, termasuk Indonesia kini mencapai dua juta kasus. Dari jumlah kasus di negara-negara ASEAN pada umumnya mencapai 4,2 juta kasus pertahun. Dari keterangan ini, terinput dari Data Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization).Tahun 2006 lalu, telah terungkap perbincangan mengenai kasus aborsi. Dengan tema “Virginitas dan Fenomena Aborsi” yang digelar di Makassar. Di acara tersebut, dihadiri seorang ahli kedokteran bernama dr Fatmawati Madya SPOG. Menurut penuturan beliau yang bekerja di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, mengakui Rumah Sakit di Makassar pun, hampir setiap hari didapati pasien yang terlibat dalam kasus aborsi. Bahkan ada pasien yang datang setelah ditangani dukun atau dilakukan sendiri.“Mereka datang dalam kondisi sudah terjadi infeksi atau pendarahan yang hebat, ujarnya sembari menambahkan, hampir setiap hari ada saja pasien yang datang ke rumah sakit meminta janinnya digugurkan, dengan alasan yang tidak jelas atau bukan alasan medis, tegasnya”.Bahkan berdasarkan data Departemen Kesehatan di Indonesia sejak tahun 1999, kasus aborsi kian bertambah. Dengan total kasus berjumlah 750 bagi remaja putri yang belum menikah. Ditambah 1.250 kasus yang dilakukan oleh ibu rumah tangga atau perempuan telah menikah.Dengan volume kasus yang tercatat pertahun. Membutuhkan peran aktif kita dalam memberantas kasus tersebut. Dalam hal ini, yang terjadi bagi para anak remaja putri, bahkan mereka yang masih berstatus mahasiswi, pegawai swasta atau pekerja sex komersial.Jika kita sepintas melihat ke belakang, banyaknya perlakuan hubungan sex yang berbau ekstrim. Seperti hubungan sodomi, blow job, threesome, dan lain-lain. Bayangkan saja, bagaimana free sex yang terjadi di pasaran kota-kota Asia seperti Jakarta yang sebagian besar perempuannya bergonta-ganti pasangan? Atau bagaimana dahsyatnya bila terjadi penularan penyakit kelamin?Menurut Ichwan, “Sekarang, sex bukan lagi sekedar kata sifat. Melainkan juga sudut pandang. Lebih ekstrim lagi, aborsi adalah bisnis. Dalam dunia pergaulan, segelintir anak remaja terbiasa melakukan hubungan diluar nikah, lantaran sama suka dan rasa coba-coba. Tentunya, keinginan mereka semakin penasaran untuk mencoba berbuat zina. Seraya tempat mesumnya kebanyakan terjadi di wisma atau hotel berbintang dua. Seakan mereka tak pernah khawatir akan hal-hal yang menjadi ketergantungan sex.Sebuah fenomena nyata yang hadir dikehidupan kita. Selama ini rasa penyesalan akhirnya datang, dari kisah pengalaman Ratu yang pernah melakukan aborsi. Mulanya mereka bertemu bak sepasang jalinan cinta. Mereka menjalani hubungan terbilang tahunan. Lambat laun, karena sering melakukan hubungan sex bebas. Akhirnya hubungan mereka retak dan harus menanggung ulahnya sendiri.Mereka tak menyadari apa yang menimpanya. Sampai- sampai keegosian Rais berujung untuk menggugurkan kandungan Ratu. Disaat pertengkaran terjadi, disela itu ia meminta pertanggung jawaban. Tak dinyana, yang terlontar kata digugurkan saja. Lantas, bagaimana kekuasaan Tuhan yang menciptakan makhluk-Nya untuk berhak lahir di bumi. Seakan anugerah yang diberikan itu terbuang percuma.Akhirnya, Ratu yang tak ingin kehilangan pekerjaan. Ia pun mencari bantuan dari mantan pacarnya (Risal) yang juga berprofesi sebagai perantara di beberapa tempat aborsi.Mulanya Ratu takut untuk melakukan aborsi. Walau situasi dan kondisi yang dialami, membuat ia nekat untuk melakukan kejahatan itu. Dengan keterpaksaan, ia rela mengorek uang tabungan miliknya. Setelah ia menemui Risal, lelaki bertubuh tinggi dengan kulit hitam legam. Singkat kata, Ratu menanyakan tempat untuk aborsi.Risal, tidak hanya melayani pasien untuk aborsi. Tetapi, sering kali ia menyelamatkan teman wanitanya dengan cukup mengkomsumsi pil/ramuan yang terdapat di apotek. Kepanikan Ratu makin terasa, gegas pun memberitahukan usia kandungannya. Dengan wajah pucat, ia membisik dengan nada datar 2 bulan, ujar Ratu.Setelah menyimak ucapan Ratu. Risal pun berangkat dengan membawa uang sebanyak 500 ribu rupiah, buat biaya aborsi. Dipenghujung waktu, menunggu kabar dan kepastian. Setengah jam berlalu, handphone milik Ratu bernada pesan singkat. Bertuliskan, “saya sudah tanya dukun itu, katanya ia tidak bisa dengan harga 500 ribu dan itu hanya kandungan 1 bulan saja, ujar Risal.Kegelisahan Ratu kian panik setelah membaca pesan tersebut. Ditambah, kekebalan tubuh mulai rapuh yang tak biasanya. Bahkan rasa mual, pusing masih terasa berat baginya. Di masa haidnya yang tidak teratur, membuat diri Ratu terlalu sensititf. Namun, raut Rais yang terlihat membingungkan dan tak tahu harus berbuat apa lagi.Keesokan harinya, Risal datang ke rumah Ratu. Membawa resep untuk menebus obat tersebut. Singkat, “saya hanya bisa memberikan ini, mudah-mudahan bisa berhasil karena usia kandungan kamu belum masuk pada bulan ketiga, ujar Risal”Banyak cara yang kadang bisa dijadikan untuk menggagalkan janin. Tetapi, tempat aborsi pun masih diminati sebagian orang yang mampu membayar dengan harga jutaan rupiah. Meski dengan mengkomsumsi pil atau pengorekan rahim, tentu semua memiliki efek dan nyawa pun bisa jadi taruhannya.Praktek aborsi, tidak sekadar berada di pelosok desa. Kota, dimana kita lahir kerap terdapat beberapa tempat selubung yang dianggap dan hanya diketahui bagi segelintir masyarakat setempat. Soal lokasinya pun beragam, seraya kita harus menguntik dan mengamati. Walau kadang anda harus tahu siapa dan seberapa lama pekerjaan itu ia lakoni, guna mencari rasa aman terhadap diri kita.Tempat pengguguran itu biasa ditempuh dengan berjalan kaki. Melalui sebuah jalan dan masuk ke lorong kecil yang bebatuan. Setelah kita tiba di lorong kecil, pasien dan perantara yang hanya bisa berjalan masuk menuju rumah aborsi itu. Dengan demikian, mereka bekerja secara teliti dan tidak sembarang membawa orang masuk kesitu. Bahkan setelah selesai, mereka kembali secara sembunyi-sembunyi.Ratu yang bekerja di bank swasta. Dan Rais yang masih duduk dibangku kuliah di perguruan tinggi negeri Makassar. Mereka mengalami kasus ini dengan rasa penyesalan dan berharap tidak mengulangi prilaku ini, tandas Rais. Bahkan ia berjanji setelah ini, untuk menikahi Ratu. Lantas, apa yang menjadi alasan hingga mereka pelit melihat hidup.Jika kalimat di atas masih terasa berat untuk dibaca di waktu santai, baiklah kita ngobrol tentang keputusasaan saja. Sosok penyesalan dan rasa bersalah cenderung datang di babak akhir. Semua orang sepakat kalau keganasan macan tak akan pernah melukai anaknya sendiri. Tapi kenapa dengan pasangan ini, yang tega mengakhiri anaknya dalam keadaan tersiksa. Mungkin saja ada ketakutan akan hubungan yang belum resmi atau menghindari rasa malu dari pihak keluarga masing-masing.Pergulatan kasus aborsi mulai dianggap sebagai ancaman pertahun. Jika benar atau salah, apakah mereka tak khawatir dampak dari aborsi? Adakah rasa tidak nyaman bila tak melakukan hubungan sex bebas? Atau, saat ini justru diperlukan hubungan itu? Bisa saja ada kemungkinan satu atau dua bulan orang akan melakukan aborsi?Berangkat dari pertanyaan di atas. Memang kasus aborsi kerap kali dianggap nilai mati. Dimana kebebasan mereka kerap terjadi dan didukung oleh beberapa faktor sebelum melakukan hubungan sex diluar nikah. Misalnya, kondisi ekonomi, broken home, hiburan malam, mabuk-mabukan sampai menonton film blue dan lain-lain.Di Makassar, tersebar puluhan pergaulan bebas. Baik untuk menengah ke atas, maupun untuk kalangan yang biasa saja. Setidaknya sejak akhir 1999, kasus aborsi ini mulai diberantas. Tapi toh, malah menjadi budaya yang buruk dan sulit menebak mana yang pernah melakukan aborsi atau sebaliknya. Fakta ini sangat dipengaruhi oleh banyaknya perempuan yang khawatir untuk melakukan pergaulan bebas. Dengan sendirinya, banyak pula anak-anak generasi baru yang takut dan harus memilah pergaulan saat ini.Perkembangan dunia pergaulan yang mayoritas anak-anak remaja. Seraya cenderung hidup dengan prilaku baru dan beringsut ke dunia trendsetter. Pesatnya kehidupan yang indentik dengan prostitusi, membuat akar mental anak remaja tertimpa oleh pembunuhan karakter yang kerap mempengaruhi psikologisnya.Dengan kata lain, aborsi hanyalah penyakit psikologis. Dimana ahli kedokteran menuturkan, bahwa seorang perempuan yang melakukan aborsi, mengakibatkan pengaruh gangguan jiwa yang sensitif dan tertutup dalam hal pengembangan janin, ujar Fatmawati. Dari proses ketegangan itulah cenderung ditemui kemandulan, bahkan timbulnya penyakit kanker rahim, kanker prostak atau rusaknya kelenjer vagina.Kisah Ratu hanya sekelumit bagian dari para pelaku aborsi. Tentu Ratu bukan satu-satunya yang biasa melakukan hal ini. Bahkan, bisa saja anak-anak kita bagian dari mereka yang tak disadari.
23 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar