Mungkin saja, saya mengawali sebuah kalimat :
Salam budaya,
Berangkat dari temu teman teater nusantara VI yang diadakan di kota pahlawan. Sejuta aksi dan peran dari berbagai komuitas datang silih berganti. Para komunitas yang ikut serta dalam acara ini, datang dari penjuru nusantara. Mereka pun merasa terhormat bila budaya apa yang mesti diselamatkan. Baik halnya dalam pementasan, hingga suasana apa yang pantas untuk diselamatkan bagi teman-teman dengan beragam suku dan budaya. Sementara, para teman yang datang dari Makassar, Gorontalo, Kalimantan, Papua, Bali dan kota-kota lainnya pun ikut menikmati kegelisahan tersebut.
Boleh di kata sebelum kegiatan dan proposal itu terdengar dari telinga teman-teman, mungkin saja sekian hari mereka telah mempersiapkan sebuah naskah untuk di pentaskan. Bahkan tidak hanya itu. Semacam biaya hidup, yang paling lazim ketika kita merantau ke negeri seberang. Sejuta makna pun dihadapkan dengan kenyataan, sembari berpikir satu visi dan tekad yang tak lepas dari semangat para seniman Indonesia.
Kegiatan yang berlangusng sejak tanggal 25 Juli hingga 2 Agustus 2008. Yang diperhitungkan Selama 9 hari oleh pihak panitia. Mengenai SDM dan etika yang nampak dari panitia, terbentuk kwalitas yang kurang sempurna, terbukti dari para komunitas yang mengeluh dan merasakan fasilitas dengan seadanya, atau setidaknya menyadarkan pada kontribusi yang mesti disesuaikan. Sekiranya kita sikapi dengan rasa yang lebih rasional saja.
Dalam tema yang diangkat dalam acara ini, tentang “ selamatkan budaya kita”. Seperti apa gaun tersebut. Kegiatan ini berupa karnaval budaya, workshop (penyutradaraan, keaktoran, musik dan make up) selain itu disediakan pula sebuah apresiasi pementasan dan dilanjutkan dengan forum diskusi yang ritmenya berdasar rundown acara. Seperti apakah penyikapan teman-teman dalam acara ini dan bagaimana nadi kesenian selama temu teman teater nusantara ini.
Selain tata karma dan etika. Ada kalanya permasalahan yang ditemui dalam kegiatan ini. Hingga solusi apa yang sepadan untuk kita temui. Mungkin saja, ada rintihan yang mesti disampaikan atau sekiranya mewakili rasa yang diam tentang apa gambaran kesenian kampus selama ini.
Secara garis umum, kesenian kampus selama ini masih buas dengan fenomena rongsokan. Mengapa saya menyatakan demikian. Karena adakalanya, salah satu kampus masih diabaikan dengan fasilitas hingga dukungan secara empati. Seolah-olah, hantaman untuk kesenian kampus akan dilumat dengan politik kultur.
Sejak kesadaran itu mulai terkemas, maka teman-teman harus paham tentang sejauh mana apresiasi kampus kita mengenai kesenian kampus. Sementara itu, tidak hanya dari segi fasilitas saja, bahkan adanya kontoversi antara pihak akademik dan para UKM yang berada pada posisi dibawah naungan pada diktator kampus.
Dalam hal ini, kesenian kampus makin terpuruk oleh sebuah argument yang sangat halus. Maksud kehalusan tersebut, adalah adanya oknum yang tidak bertanggung jawab, terhadap apa cara memaknai dan menyandarkan kesemutan seni dalam aura kampus. Bahkan, boleh dikata sejauh ini ada banyak pergulatan seni yang mendorong kawula muda untuk tetap eksis. Tidak hanya dengan teater saja. Tetapi soal mengenal dan memahami sarapan sastra. Tentang menulis dan meramu kata-kata yang pantas untuk diteriakan.
Sekali lagi, melayangkan kalimat “selamatkan budaya kita”.
Jika memang aroma budaya yang ingin diselamatkan selalu berhadapan dengan dunia kesenian kampus. Maka sederhananya, saya akan mencoba merenungkan dengan pijakan yang rata pada setiap temu teman se-nusantara ini. Dalam artian, mencoba membahas keragaman yang senantiasa jarang dipertontonkan pada saat temu teman se-nusantara.
Salam budaya,
Berangkat dari temu teman teater nusantara VI yang diadakan di kota pahlawan. Sejuta aksi dan peran dari berbagai komuitas datang silih berganti. Para komunitas yang ikut serta dalam acara ini, datang dari penjuru nusantara. Mereka pun merasa terhormat bila budaya apa yang mesti diselamatkan. Baik halnya dalam pementasan, hingga suasana apa yang pantas untuk diselamatkan bagi teman-teman dengan beragam suku dan budaya. Sementara, para teman yang datang dari Makassar, Gorontalo, Kalimantan, Papua, Bali dan kota-kota lainnya pun ikut menikmati kegelisahan tersebut.
Boleh di kata sebelum kegiatan dan proposal itu terdengar dari telinga teman-teman, mungkin saja sekian hari mereka telah mempersiapkan sebuah naskah untuk di pentaskan. Bahkan tidak hanya itu. Semacam biaya hidup, yang paling lazim ketika kita merantau ke negeri seberang. Sejuta makna pun dihadapkan dengan kenyataan, sembari berpikir satu visi dan tekad yang tak lepas dari semangat para seniman Indonesia.
Kegiatan yang berlangusng sejak tanggal 25 Juli hingga 2 Agustus 2008. Yang diperhitungkan Selama 9 hari oleh pihak panitia. Mengenai SDM dan etika yang nampak dari panitia, terbentuk kwalitas yang kurang sempurna, terbukti dari para komunitas yang mengeluh dan merasakan fasilitas dengan seadanya, atau setidaknya menyadarkan pada kontribusi yang mesti disesuaikan. Sekiranya kita sikapi dengan rasa yang lebih rasional saja.
Dalam tema yang diangkat dalam acara ini, tentang “ selamatkan budaya kita”. Seperti apa gaun tersebut. Kegiatan ini berupa karnaval budaya, workshop (penyutradaraan, keaktoran, musik dan make up) selain itu disediakan pula sebuah apresiasi pementasan dan dilanjutkan dengan forum diskusi yang ritmenya berdasar rundown acara. Seperti apakah penyikapan teman-teman dalam acara ini dan bagaimana nadi kesenian selama temu teman teater nusantara ini.
Selain tata karma dan etika. Ada kalanya permasalahan yang ditemui dalam kegiatan ini. Hingga solusi apa yang sepadan untuk kita temui. Mungkin saja, ada rintihan yang mesti disampaikan atau sekiranya mewakili rasa yang diam tentang apa gambaran kesenian kampus selama ini.
Secara garis umum, kesenian kampus selama ini masih buas dengan fenomena rongsokan. Mengapa saya menyatakan demikian. Karena adakalanya, salah satu kampus masih diabaikan dengan fasilitas hingga dukungan secara empati. Seolah-olah, hantaman untuk kesenian kampus akan dilumat dengan politik kultur.
Sejak kesadaran itu mulai terkemas, maka teman-teman harus paham tentang sejauh mana apresiasi kampus kita mengenai kesenian kampus. Sementara itu, tidak hanya dari segi fasilitas saja, bahkan adanya kontoversi antara pihak akademik dan para UKM yang berada pada posisi dibawah naungan pada diktator kampus.
Dalam hal ini, kesenian kampus makin terpuruk oleh sebuah argument yang sangat halus. Maksud kehalusan tersebut, adalah adanya oknum yang tidak bertanggung jawab, terhadap apa cara memaknai dan menyandarkan kesemutan seni dalam aura kampus. Bahkan, boleh dikata sejauh ini ada banyak pergulatan seni yang mendorong kawula muda untuk tetap eksis. Tidak hanya dengan teater saja. Tetapi soal mengenal dan memahami sarapan sastra. Tentang menulis dan meramu kata-kata yang pantas untuk diteriakan.
Sekali lagi, melayangkan kalimat “selamatkan budaya kita”.
Jika memang aroma budaya yang ingin diselamatkan selalu berhadapan dengan dunia kesenian kampus. Maka sederhananya, saya akan mencoba merenungkan dengan pijakan yang rata pada setiap temu teman se-nusantara ini. Dalam artian, mencoba membahas keragaman yang senantiasa jarang dipertontonkan pada saat temu teman se-nusantara.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar